Oleh: M. Jain Amrin
_______
GENERASI tidak lahir dalam ruang hampa. Ia hadir ke dunia membawa potensi, tetapi potensi tidak pernah tumbuh dengan sendirinya. Seperti benih, generasi membutuhkan tanah yang subur, air yang cukup, dan tangan-tangan yang sabar untuk merawatnya. Pendidikan, dalam pengertian paling hakiki, adalah proses merawat itunsebuah kerja panjang yang menentukan apakah potensi akan menjelma menjadi harapan, atau justru layu sebelum berkembang.
Dalam perspektif ilmiah, generasi merupakan hasil dari proses biologis sekaligus konstruksi sosial. Ia dibentuk oleh lingkungan keluarga, sistem pendidikan, kondisi ekonomi, nilai budaya, serta arah kebijakan negara. Karena itu, membicarakan generasi tidak cukup hanya berhenti pada angka kelahiran dan statistik demografi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sebuah masyarakat mempersiapkan, mendampingi, dan membentuk manusia-manusia yang lahir di dalamnya.
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pandangan ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan proses memaksa atau mencetak, melainkan merawat dan mengarahkan. Anak bukan bejana kosong, melainkan subjek yang harus ditumbuhkan dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Namun, realitas hari ini sering kali menjauh dari cita-cita tersebut. Pendidikan kerap direduksi menjadi rutinitas administratif, target kurikulum, dan angka kelulusan. Dalam situasi seperti ini, proses merawat berubah menjadi proses mengejar. Padahal, generasi yang hanya dikejar capaian akademiknya, tetapi diabaikan pembentukan karakter dan daya kritisnya, berisiko tumbuh rapuh di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.
Paulo Freire, seorang pemikir pendidikan kritis, mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya adalah praktik pembebasan. Menurutnya, pendidikan tidak boleh menjadikan manusia sekadar objek, melainkan harus memampukan mereka untuk memahami realitas dan mengubahnya. Dalam konteks ini, merawat generasi berarti membekali mereka dengan kesadaran kritis kemampuan untuk berpikir, mempertanyakan, dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya.
Pertanyaan “jika bukan kita, siapa lagi?” menjadi refleksi yang tidak bisa dihindari. Tanggung jawab merawat dan membentuk generasi tidak hanya berada di pundak guru dan sekolah. Keluarga, masyarakat, dan negara memiliki peran yang sama pentingnya. Keluarga adalah ruang pendidikan pertama, sekolah adalah ruang penguatan nalar, sementara negara bertugas memastikan keadilan akses, kualitas, dan keberlanjutan sistem pendidikan.
Di wilayah desa dan daerah pinggiran, tanggung jawab ini terasa semakin nyata. Keterbatasan fasilitas, akses informasi, dan sumber daya sering kali menjadi tantangan serius. Namun di sanalah pula terlihat semangat merawat generasi yang paling jujur, guru yang bertahan dengan segala keterbatasan, orang tua yang berharap melalui pendidikan anaknya dapat melampaui batas-batas yang mereka alami. Generasi desa mengajarkan bahwa merawat tidak selalu identik dengan kemewahan, tetapi dengan kehadiran dan kepedulian.
Secara sosiologis, kegagalan merawat generasi hari ini akan menjadi krisis sosial di masa depan. Rendahnya kualitas pendidikan, lemahnya karakter, dan minimnya daya kritis akan berdampak langsung pada kualitas demokrasi, etika publik, dan keberlanjutan pembangunan. Karena itu, pendidikan harus dipahami sebagai investasi peradaban, bukan sekadar program jangka pendek.
Akhirnya, generasi tidak cukup hanya dilahirkan. Ia harus dirawat dengan kesabaran, dibentuk dengan kesadaran, dan dijaga dengan tanggung jawab kolektif. Pertanyaan itu kembali menggema: jika bukan kita yang mengambil peran hari ini, siapa lagi yang akan menanggung akibatnya esok hari? Di sanalah pendidikan menemukan maknanya sebagai ikhtiar bersama untuk memastikan masa depan tetap memiliki harapan. (*)






Tinggalkan Balasan