Oleh:
1. Firman Alfariji
2. Inda Susulawati Umasangadji
3. Abdul Risky m. Nur
4. Siti Maisyarah Kamarullah
5. Mudzillah Safhira
6. Fitri Saruni
________
DALAM kehidupan bermasyarakat, manusia tidak bisa terlepas dari rutinitas. Rutinitas adalah pola perilaku yang diulang-ulang dan relatif stabil dalam periode waktu tertentu. Rutinitas ini tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga melibatkan kelompok, karena mencakup interaksi antarindividu dalam suatu komunitas atau masyarakat. Pembentukan rutinitas tidak terjadi secara alami saja, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial di sekitar individu.
Lingkungan fisik dan sosial berfungsi sebagai kerangka yang membentuk, mengarahkan, dan menjaga perilaku bersama. Melalui interaksi berkelanjutan dengan lingkungan ini, masyarakat mengembangkan kebiasaan yang kemudian dianggap sebagai hal yang biasa dan normal. Oleh karena itu, memahami peran lingkungan dalam pembentukan rutinitas sangat penting dalam studi sosiologi dan ilmu sosial lainnya.
Lingkungan Fisik sebagai Kerangka Pembentuk Rutinitas
Lingkungan fisik, mulai dari kondisi alam hingga tata letak bangunan, bukan sekadar tempat kita berdiri. Dalam Psikologi Lingkungan, diyakini bahwa tempat tinggal kita sebenarnya “mendikte” cara kita berpikir dan bertindak. Lingkungan memiliki kekuatan untuk membentuk kebiasaan kita sehari-hari; kita cenderung menyesuaikan perilaku agar sesuai dengan fungsi dan aturan tidak tertulis dari ruang yang kita tempati. Sebagai contoh, di wilayah perkotaan yang padat, keberadaan jalan raya, jadwal transportasi umum, dan letak pusat perbelanjaan memaksa warga untuk hidup dalam ritme yang cepat dan terjadwal.
Secara psikologis, manusia melakukan adaptasi perilaku terhadap kepadatan dan fasilitas yang ada. Rutinitas seperti mengantre di halte atau berangkat kerja di jam yang sama bukan hanya karena pilihan pribadi, melainkan karena tata kota memang dirancang sedemikian rupa sehingga membentuk pola hidup yang seragam. Hal yang sangat berbeda terjadi di pedesaan. Di sana, fisik lingkungan yang didominasi oleh lahan pertanian dan alam membuat masyarakatnya memiliki rutinitas yang lebih fleksibel namun sangat bergantung pada siklus alam. Karena kondisi fisiknya lebih terbuka dan saling terhubung, muncul ikatan sosial yang kuat. Kegiatan seperti gotong royong saat panen menjadi rutinitas karena tuntutan lingkungan alamnya. Di sini kita melihat bahwa karakter dan kebiasaan seseorang sangat dipengaruhi oleh seberapa dekat dan bergantungnya mereka terhadap lingkungan fisik di sekitarnya. Dalam bukunya Ecological Psychology Roger Barker (1968), Menjelaskan bahwa “lingkungan fisik tertentu memiliki pola perilaku standar yang dilkuti oleh siapa pun yang berada di sana, terlepas dari kepribadian individu tersebut.”
Lingkungan Sosial dan Pembentukan Norma Rutinitas
Selain faktor bangunan dan jalanan, orang-orang di sekitar kita juga punya peran besar dalam membentuk kebiasaan kita sehari-hari. Lingkungan sosial seperti aturan tidak tertulis, nilai, dan adat adalah “buku panduan” yang memberi tahu kita apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan di masyarakat. Dalam psikologi, ini disebut sebagai proses belajar sosial, di mana kita secara alami memperhatikan perilaku orang lain untuk mengetahui cara bertindak yang benar.
Kebiasaan bersama ini biasanya terbentuk karena kita sering melihat dan meniru apa yang dilakukan orang tua atau tetangga kita sejak kecil. Contohnya adalah budaya gotong royong di Indonesia. Karena kita sering melihat orang dewasa bekerja bakti atau saling menolong saat ada acara, kita jadi ikut melakukannya dan menganggap itu sebagai sebuah kewajiban rutin. Hal ini terjadi karena manusia adalah pengamat yang hebat; kita belajar bahwa membantu orang lain adalah cara untuk menjadi bagian dari komunitas. Seperti yang pernah dicetuskan oleh salah satu tokoh psikologi yaitu Albert Bandura (1977), yaitu ” Sebagian besar perilaku manusia dipelajari melalui pengamatan melalui pemodelan: dengan mengamati orang lain, seorang membentuk ide tentang bagaimana perilaku baru dilakukan, dan pada kesempatan berikutnya, informasi yang tersimpan ini berfungsi sebagai panduan untuk bertindak.”
Ada juga yang disebut dengan tekanan kelompok, yaitu perasaan ingin “ikut arus” agar tidak dianggap aneh. Jika kita tidak mengikuti rutinitas yang sudah ada, biasanya kita merasa tidak nyaman atau takut ditegur oleh orang lain. Tekanan inilah yang membuat kita tetap menjaga rutinitas tersebut, seperti tetap ikut kerja bakti meskipun sedang lelah. Pada akhirnya, kita menyesuaikan diri agar tetap diterima dan merasa aman di dalam lingkungan pergaulan kita.
Rutinitas dan Perilaku Kolektif dalam Kehidupan Masyarakat
Rutinitas yang kita lakukan bersama-sama, seperti mengikuti tradisi atau pola ibadah, sebenarnya adalah cara kita menunjukkan siapa diri kita dan kelompok mana kita berasal. Dalam psikologi, ini disebut sebagai bagian dari identitas sosial kita; kita merasa bangga dan memiliki ikatan kuat karena melakukan hal yang sama dengan orang lain di lingkungan kita. Kebiasaan ini akhirnya menjadi ciri khas yang membedakan satu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya. Ambil contoh kegiatan di pasar tradisional. Interaksi berulang antara pedagang dan pembeli, seperti tawar-menawar, bukan hanya soal jual beli, tapi juga soal membangun kepercayaan. Secara alami, kita belajar dari lingkungan dengan cara melihat bagaimana orang lain berinteraksi, lalu kita menirunya hingga menjadi kebiasaan yang alami. Rutinitas sederhana di pasar ini sebenarnya adalah “perekat” yang membuat hubungan antarwarga menjadi lebih akrab dan solid.
Istilah perekat ini seperti pada penjelasan dari kutipan Muzafer Sherif (1936), yang mengatakan bahwa “ketika individu berinteraksi bersama dalam rutinitas yang konsisten, mereka akan membentuk norma-norma kelompok yang kemudian mengatur perilaku mereka dan memberikan identitas yang membedakan mereka dari kelompok lain”.
Hal yang sama terlihat pada kegiatan ronda malam. Rutinitas ini muncul karena adanya kesadaran bersama bahwa keamanan adalah tanggung jawab setiap orang. Di sini, muncul keinginan untuk menyesuaikan diri dengan aturan kelompok; kita ikut berpartisipasi karena ingin dianggap sebagai warga yang baik dan peduli. Dengan mengikuti rutinitas yang sudah disepakati bersama ini, kita tidak hanya menjaga lingkungan tetap aman, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan di dalam masyarakat.
Hubungan antara Lingkungan Fisik dan Sosial
Lingkungan fisik dan sosial saling terkait dalam membentuk rutinitas. Ruang fisik menyediakan wadah untuk interaksi sosial, sementara lingkungan sosial memberikan makna dan aturan terhadap penggunaan ruang tersebut. Tanpa norma sosial, ruang fisik tidak akan menghasilkan rutinitas yang teratur; sebaliknya, tanpa ruang fisik, interaksi sosial sulit terwujud secara nyata.
Sebagai contoh, balai desa tidak hanya berfungsi sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai ruang sosial tempat masyarakat menjalankan rutinitas musyawarah, pertemuan, dan kegiatan bersama. Interaksi yang terjadi di ruang tersebut memperkuat perilaku kelompok dan rasa kebersamaan antarwarga.
Rutinitas yang terbentuk di masyarakat adalah hasil interaksi kompleks antara lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik mengarahkan pola aktivitas melalui struktur ruang dan fasilitas, sementara lingkungan sosial membentuk rutinitas melalui norma, nilai, dan interaksi sosial. Rutinitas yang diulang-ulang kemudian membentuk perilaku kelompok yang mencerminkan keteraturan, identitas, dan solidaritas sosial di masyarakat. Dengan memahami proses ini, kita dapat melihat bahwa perilaku manusia tidak berdiri sendiri, melainkan selalu dipengaruhi oleh konteks lingkungan tempat ia hidup. (*)






Tinggalkan Balasan